Sabtu, 03 Oktober 2015

Cerita Masa Kecil

hallo...
ni blog pertama gue atas keinginan gue sendiri. #yang sebelumnya sih karna tugas. :v
sebenernya gue g suka nulis, tapi kali ini gue lagi pengen nulis.

nama gue dian. #lho pasti nyangka gue cowok kan.  -_-
mungkin karna nama gue kayak cowo, jadi waktu kecil gue kayak cowok bangett, dan senengnya main mainan cowok. #udah nyambung-nyambungin aja yaa :v.
gue seneng banget main kelereng, manjat pohon, main yoyo, kayu lele, asinaga, dll. biasanya gue main dari siang sampe sore (kalo inget), coz biasanya tunggu diteriakin nyokap dulu baru pulang. :v
gue sama temen-temen gue sering manjat pohon seri (seri yaa, bukan cerry yang dijual di mall :v) biasanya gue pke gelas bekas untuk tempat seri. . kita bangga banget kalo dapet seri banyak. jadi cari kami berlomba-lomba cari seri cuma buat banyak-banyakan seri aja. setelah itu klo pengen di makan yaa di makan, klo g pengen ya kasihkan teman.
dulu gue seneng banget ke hutan bareng temen-temen gue, coz kebetulan dulu di belakang rumah gue masih hutan(sampe sekarang sih,heehee). lho tau yang kita cari? kita nyari buah "kelubut". kata orang sih buah itu makanan ular. karna rasanya enak, why not kita makan? haha. menurut gue kelubut itu buah markisa kecil. kalo lho belum pernah makan buah kelubut, lho makan aja buah markisa, gue jamin isinya sama, cuman ya buah kelubut jauh lebih kecil dan ada semacam serabut di bagian luarnya. klo matang warnanya orange, rasanya maniiss banget.
kenangan masa kecil gue ini gak bakal gue lupain. kebayang kan lho rasanya jadi anak jaman sekarang yang gak bisa nikmatin main bareng temen, bertualang bareng temen, seneng-seneng, gak megang gadget mulu, peduli sama temen, dan lain-lain dah pokoknya.
sekian dulu ya dari gue.


Senin, 10 Juni 2013

Pernalaran

 
A.       Pengertian Pernalaran
 
Pernalaran adalah suatu proses berfikir manusia untuk menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga pada satu kesimpulan. Meskipun demikian, tidak semua kegiatan berfikir termasuk bernalar. Berfikir dikatakan bernalar jika dilakukan dengan berfikir secara sistematis dalam membandingkan atau menghubungkan data dan fakta untuk menarik suatu simpulan.
Pernalaran memegang peran penting dalam kegiatan ilmiah, baik dalam kegiatan lisan maupun tulisan. Itu sebabnya, pengetahuan tentang pernalaran ini perlu dimiliki  setiap mahasiswa.
Dalam pernalaran terdapat ciri-ciri dan syarat-syaratnya, yaitu:
1.    Ciri-Ciri Pernalaran :
a. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas disebut logika.
b. Sifat analitik dari proses berfikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
2.      Syarat-syarat Pernalaran :
a.      Suatu pernalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
b.      Dalam pernalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti pernalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
B.     Jenis-Jenis Pernalaran
Ada dua jenis pernalaran, yaitu:
1.      Pernalaran Deduktif
Pernalaran deduktif adalah bertolak dari sebuah simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposisi tempat menarik simpulan itu. Proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis.
Dalam definisi pernalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Contoh :
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum), dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus), dan kegiatan imitasi (khusus), dari media yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Pernalaran Deduktif dapat berupa silogisme, yaitu kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor (PM) dan premis minor (pm).
Contoh :
(PM) Semua lulusan SMA mendaftar ke STAIN
(pm) Akira adalah lulusan SMA
(Kesimpulan) Jadi, Akira mendaftar ke STAIN.                      
Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.
a.      Menarik Simpulan secara Langsung
 
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis.
Misalnya:
1)      Semua S adalah P. (premis).
Sebagian  P adalah S. (simpulan).
Contoh :          
Semua ikan berdarah dingin (premis).
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan (simpulan).
 
2)      Tidak satu pun S adalah P. (premis).
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan).
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis).
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan).
                          
3)      Semua S adalah P. (premis).
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan).
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis).
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan).
 
4)       Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan).
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan).
 
5)      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan).
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis.)
Tak satu pun gajah adalah tak berbelalai. (simpulan).
Tidak satu pun yang tak berbelalai adalah gajah. (simpulan).
 
b.      Menarik Simpulan secara Tidak Langsung
Pernalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis pernalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung adalah sebagai berikut.
1)      Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial adalah silogisme yang terdiri dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor.
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah bijaksana.
Jadi, semua polisi bijaksana.
Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh:
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada kesimpulan).

Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut:
 
a)      Silogisme harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term minor          =          Xantipe.
Term mayor     =          harus giat berlatih.
Term penengah     =          atlet.
(1)   Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.
Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik kesimpulan.
Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulat pun adalah manusia.
Bilah salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelalai.
Jadi, tidak seekor singa pun berbelalai.
Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
Semua Mahasiswa adalah lulusan SMTA.
Semua karya ilmiah mempunyai daftar pustaka.
Dari dua premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
Bila salah satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu  simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)
 
2)      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Jika premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Jika premis minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
 
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.
 
3) Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

      Contoh:

 

      Dia adalah seorang kiai atau profesor.

Dia seorang kiai.

Jadi, dia bukan seorang profesor.
 
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai

Jadi, dia seorang profesor.
 
  4) Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum, yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.  
    
2.      Pernalaran Induktif
Pernalaran induktif adalah pernalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan kesimpulan yang umum. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataaan (premis). Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Contoh :
 Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksakan sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk biaya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anaknya yang tertua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh (kata kunci) berat beban hidupnya. (Ide pokok).
Beberapa bentuk pernalaran induktif adalah sebagai berikut:
a.       Generalisasi
Generalisasi ialah proses pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.”. Hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai. (premis)
Jika dipanaskan, tembaga memuai. (premis)
Jika dipanaskan, emas memuai. (premis)
Jika dipanaskan, platina memuai. (premis)
 Jika dipanaskan, logam memuai. (kesimpulan)
 
benar atau tidak benarnya dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal berikut:
1) Data itu harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan, semakin benar simpulan yang diperoleh.
2) Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang benar.
3) Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
 
a)      Macam – macam Generalisasi
(1)    Generalisasi Sempurna
Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan simpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
 
(2)    Generalisasi tidak sempurana
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
b.      Analogi
Analogi ialah cara penarikan pernalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:
Nina adalah lulusan Akademi Syariah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
 
Oleh sebab itu, Nina dapat menjalakan tugasnya dengan baik.
 
 
 
Tujuan  pernalaran secara analogi adalah sebagai berikut:
1). Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2). Analogi digunakan untuk menyingkap kekeliruan.
3). Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
 
c.        Hubungan Kausal
Hubungan kausal ialah pernalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam  kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia terkena penyakit kanker darah dan meninggal dunia. Kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah, yaitu sebagai berikut.
1)      Sebab-Akibat
Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B, C, seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari D, dan satu.
Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan pernalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan pernalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang tidak jelas terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebuah mangga terjatuh dari batangnya, kita akan memperkirakan beberapa kemungkinan penyebabnya. Mungkin mangga itu ditimpa hujan, mungkin dihempas angin, dan mungkin pula dilempari anak-anak. Pastilah salah satu kemungkinan itu yang menjadi penyebabnya.
 Contoh :
Angin tiba-tiba bertiup. (A), dan hujan yang tiba-tiba turun. (B), ternyata tidak sebuah mangga pun yang jatuh. (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa jatuhnya mangga itu disebabkan oleh lemparan anak-anak. (C).
Pola seperti itu dapat kita lihat pada rancangan berikut:
Angin               hujan                lemparan          mangga jatuh
  (A)                   (B)                     ( C)                       (E)
 
Angin,               hujan                                        mangga tidak jatuh
(A)                  (B)                                                  (E)
Oleh sebab itu, lemparan anak menyebabkan mangga jatuh.
                                       (C)                                                  (E)
Pola-pola seperti itu terjadi jika dua kasus atau lebih dalam satu gejala mempunyai satu dan hanya satu kondisi yang dapat mengakibatkan sesuatu, kondisi itu dapat diterima sebagai penyebab sesuatu tersebut.
Teh,     gula,     garam,              menyebabkan kedatangan semut
(P)      (Q)        (R)                                         (Y)
Gula,    lada,     bawang,           menyebabkan kedatangan semut
(Q)      (S)        (U)                                         (Y)
Jadi, gula  menyebabkan kedatangan semut
            (Q)                               (Y)
 
2)      Akibat-Sebab
Akibat-Sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entimen. Akan tetapi, dalam pernalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
 
3)      Akibat-Akibat
Akibat-akibat adalah suatu pernalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu “akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
Ketika pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat dilihat seperti berikut ini.
Hujan   menyebabkan tanah becek
(A)                            (B)
Hujan  menyebabkan kain jemuran basah
(A)                             (C)
Dalam proses pernalaran “akibat-akibat”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan
Jadi, karena tanah becek, pasti kain jemuran basah.
(B)                                                    (C)
 
 
SUMBER
 

Akademika. 2006.Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.

Arifin, E.ZainaldanS.AmranTasai. 2009, Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta.




Tatang,Atep et all.2009.Bahasa Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

­­­­­­­______.1986.Peranan Logika dalam Bahasa”. Bahan Ceramah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Tukan,P, E. Zaenal Arifin, danS Amran Tasai.2006.Cermat Berbahasa Indonesia.Jakarta.