A.
Pengertian Pernalaran
Pernalaran
adalah suatu proses berfikir manusia untuk menghubungkan data atau fakta yang
ada sehingga pada satu kesimpulan. Meskipun demikian, tidak
semua kegiatan berfikir termasuk bernalar. Berfikir dikatakan bernalar jika
dilakukan dengan berfikir secara
sistematis dalam
membandingkan atau menghubungkan data dan fakta untuk menarik suatu simpulan.
Pernalaran
memegang peran penting dalam kegiatan ilmiah, baik dalam kegiatan lisan maupun
tulisan. Itu sebabnya, pengetahuan tentang pernalaran
ini perlu dimiliki setiap mahasiswa.
Dalam pernalaran terdapat ciri-ciri dan syarat-syaratnya, yaitu:
1. Ciri-Ciri Pernalaran :
a. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas
disebut logika.
b. Sifat analitik dari proses berfikir. Analisis pada hakikatnya
merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
2. Syarat-syarat Pernalaran :
a.
Suatu pernalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki
seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
b.
Dalam pernalaran,
pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis
harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal
maupun material. Formal berarti pernalaran
memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan-aturan
berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan
sebagai premis tepat.
B. Jenis-Jenis
Pernalaran
Ada dua jenis pernalaran,
yaitu:
1. Pernalaran Deduktif
Pernalaran deduktif adalah
bertolak dari sebuah simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang
lebih umum. Simpulan yang diperoleh
tidak mungkin lebih umum daripada proposisi tempat menarik simpulan itu.
Proposisi
tempat menarik simpulan itu disebut premis.
Dalam definisi pernalaran, proposisi yang
dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil
kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Contoh
:
Masyarakat
Indonesia konsumtif (umum), dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan
(khusus), dan kegiatan imitasi (khusus), dari media yang menampilkan gaya hidup
konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Pernalaran Deduktif dapat
berupa silogisme, yaitu
kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor (PM) dan premis minor (pm).
Contoh :
(PM) Semua lulusan SMA mendaftar ke STAIN
(pm) Akira adalah lulusan SMA
(Kesimpulan)
Jadi, Akira mendaftar ke STAIN.
Penarikan
simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat
pula dilakukan secara tak langsung.
a. Menarik Simpulan secara Langsung
Simpulan
(konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis.
Misalnya:
1)
Semua S
adalah P. (premis).
Sebagian
P adalah S. (simpulan).
Contoh :
Semua ikan
berdarah dingin (premis).
Sebagian
yang berdarah dingin adalah ikan (simpulan).
2)
Tidak satu
pun S adalah P. (premis).
Tidak satu
pun P adalah S. (simpulan).
Contoh:
Tidak seekor
nyamuk pun adalah lalat. (premis).
Tidak seekor
lalat pun adalah nyamuk. (simpulan).
3)
Semua S
adalah P. (premis).
Tidak satu
pun S adalah tak-P. (simpulan).
Contoh:
Semua rudal
adalah senjata berbahaya. (premis).
Tidak satu
pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan).
4)
Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S
adalah tak-P. (simpulan).
Contoh:
Tidak seekor
pun harimau adalah singa. (premis)
Semua
harimau adalah bukan singa. (simpulan).
5)
Semua S
adalah P. (premis)
Tidak satu
pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu
pun tak-P adalah S. (simpulan).
Contoh:
Semua gajah
adalah berbelalai. (premis.)
Tak satu pun
gajah adalah tak berbelalai.
(simpulan).
Tidak satu
pun yang tak berbelalai adalah gajah. (simpulan).
b.
Menarik
Simpulan secara Tidak Langsung
Pernalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung
memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah
simpulan. Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang
kedua adalah premis yang bersifat khusus.
Untuk
menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis
(pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua
ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua
pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa
jenis pernalaran
deduksi dengan penarikan secara tidak langsung adalah sebagai berikut.
1)
Silogisme
Kategorial
Yang
dimaksud dengan silogisme kategorial
adalah silogisme yang terdiri dari tiga
proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan
simpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang
bersifat khusus disebut premis minor.
Dalam
simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor
dan predikat simpulan disebut term mayor.
Contoh:
Semua
manusia bijaksana.
Semua polisi
adalah bijaksana.
Jadi, semua
polisi bijaksana.
Untuk
menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis
mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme
diatas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak
terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat
diambil.
Contoh:
Semua
manusia tidak bijaksana.
Semua kera
bukan manusia.
Jadi, (tidak
ada kesimpulan).
Aturan umum
silogisme kategorial adalah sebagai berikut:
a)
Silogisme
harus terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor dan term penengah.
Contoh:
Semua atlet
harus giat berlatih.
Xantipe
adalah seorang atlet.
Xantipe
harus giat berlatih.
Term minor =
Xantipe.
Term mayor =
harus giat berlatih.
Term
penengah =
atlet.
(1)
Kalau lebih
dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu
menempel di dinding.
Dinding itu
menempel di tiang.
Dalam premis
ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel
ditiang. Oleh sebab itu, disini tidak dapat ditarik kesimpulan.
Dua premis
yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut
bukan ulat.
Tidak seekor
ulat pun adalah manusia.
Bilah salah
satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor
gajah pun adalah singa.
Semua gajah
berbelalai.
Jadi, tidak
seekor singa pun berbelalai.
Dari premis
yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Contoh:
Semua Mahasiswa adalah lulusan SMTA.
Semua karya
ilmiah mempunyai daftar pustaka.
Dari dua
premis yang khusus, tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian
orang jujur adalah petani.
Sebagian
pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . .
(tidak ada simpulan)
Bila salah
satu premis khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua
mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian
pemuda adalah mahasiswa.
Jadi,
sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.
Dari premis
mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Beberapa
manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor
binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . .
(tidak ada simpulan)
2)
Silogisme
Hipotesis
Silogisme
hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi
kondisional hipotesis.
Jika premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya
membenarkan konsekuen. Jika premis
minornya menolak anteseden, simpulan juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi
dipanaskan, besi akan memuai.
Besi
dipanaskan.
Jadi, besi
memuai.
Jika besi
tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak
dipanaskan.
Jadi, besi
tidak akan memuai.
3) Silogisme Alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif,
simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia bukan seorang profesor.
Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Dia bukan seorang kiai
Jadi, dia
seorang profesor.
4) Entimen
Sebenarnya
silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan
maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai
premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum, yang
dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua
sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah
seorang sarjana.
Jadi, Ali
adalah orang cerdas.
Dari
silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas
karena dia adalah seorang sarjana”.
2. Pernalaran Induktif
Pernalaran induktif adalah
pernalaran
yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan kesimpulan
yang umum. Dengan kata lain,
simpulan yang diperoleh tidak
lebih khusus daripada pernyataaan (premis). Penalaran yang bertolak dari
penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Contoh :
Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang
lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksakan
sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan
biaya pemeriksaan, serta untuk biaya hidup
sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anaknya yang tertua
dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang
nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh (kata kunci) berat beban
hidupnya. (Ide pokok).
Beberapa bentuk pernalaran induktif adalah sebagai berikut:
a. Generalisasi
Generalisasi ialah proses pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat
tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan
data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.”. Hal
ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan
gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika
dipanaskan, besi memuai. (premis)
Jika
dipanaskan, tembaga memuai. (premis)
Jika dipanaskan,
emas memuai. (premis)
Jika
dipanaskan, platina memuai. (premis)
Jika
dipanaskan, logam memuai. (kesimpulan)
benar atau
tidak benarnya dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal berikut:
1) Data itu harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dipaparkan,
semakin benar simpulan yang diperoleh.
2) Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan
dihasilkan simpulan yang benar.
3) Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat
khusus tidak dapat dijadikan data.
a) Macam – macam Generalisasi
(1)
Generalisasi Sempurna
Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh
fenomena yang menjadi dasar penyimpulan
diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan simpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum
diselidiki.
(2)
Generalisasi tidak sempurana
Generalisasi tidak sempurna adalah generalisasi berdasarkan sebagian
fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang
belum diselidiki.
b.
Analogi
Analogi ialah cara penarikan pernalaran dengan membandingkan dua hal
yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:
Nina
adalah lulusan Akademi Syariah.
Nina dapat
menjalankan tugasnya dengan baik.
Oleh sebab itu, Nina dapat menjalakan tugasnya dengan baik.
Tujuan pernalaran secara analogi adalah sebagai
berikut:
1). Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2). Analogi digunakan untuk menyingkap kekeliruan.
3). Analogi digunakan untuk menyusun klasifikasi.
c.
Hubungan Kausal
Hubungan kausal ialah pernalaran yang
diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi.
Dalam kehidupan kita sehari-hari,
hubungan kausal sering kita temukan. Hujan
turun dan jalan-jalan becek. Ia terkena penyakit kanker darah dan meninggal
dunia. Kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah,
yaitu sebagai berikut.
1)
Sebab-Akibat
Sebab-akibat
ini berpola A menyebabkan B. Disamping itu, hubungan ini dapat pula berpola A
menyebabkan B, C, seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap
penyebab kadang-kadang lebih dari D, dan satu.
Dalam
kaitannya dengan hubungan kausal ini, diperlukan kemampuan pernalaran seseorang untuk mendapatkan simpulan pernalaran. Hal ini akan terlihat pada suatu penyebab yang tidak jelas
terhadap sebuah akibat yang nyata. Kalau kita melihat sebuah mangga terjatuh
dari batangnya, kita akan memperkirakan beberapa kemungkinan penyebabnya.
Mungkin mangga itu ditimpa hujan, mungkin dihempas angin, dan mungkin pula dilempari
anak-anak. Pastilah salah satu
kemungkinan itu yang menjadi penyebabnya.
Contoh :
Angin
tiba-tiba bertiup. (A), dan hujan yang tiba-tiba turun. (B), ternyata tidak
sebuah mangga pun yang
jatuh. (E), tentu kita dapat menyimpulkan bahwa jatuhnya mangga itu disebabkan
oleh lemparan anak-anak. (C).
Pola seperti itu dapat kita lihat
pada rancangan berikut:
Angin
hujan
lemparan mangga jatuh
(A)
(B)
( C) (E)
Angin,
hujan
mangga tidak jatuh
(A) (B)
(E)
Oleh sebab itu, lemparan anak
menyebabkan mangga jatuh.
(C)
(E)
Pola-pola
seperti itu terjadi jika dua kasus atau lebih dalam satu gejala mempunyai satu
dan hanya satu kondisi yang dapat mengakibatkan sesuatu, kondisi itu dapat
diterima sebagai penyebab sesuatu tersebut.
Teh,
gula,
garam,
menyebabkan kedatangan semut
(P)
(Q)
(R)
(Y)
Gula,
lada,
bawang, menyebabkan
kedatangan semut
(Q)
(S)
(U)
(Y)
Jadi,
gula menyebabkan kedatangan semut
(Q)
(Y)
2)
Akibat-Sebab
Akibat-Sebab
ini dapat kita lihat pada peristiwa seseorang yang pergi ke dokter. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip
dengan entimen. Akan tetapi, dalam pernalaran
jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.
3)
Akibat-Akibat
Akibat-akibat
adalah suatu pernalaran yang
menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada suatu
“akibat” yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.
Ketika
pulang dari pasar, Ibu Sonya melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung
menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam kasus
itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat dilihat
seperti berikut ini.
Hujan
menyebabkan tanah becek
(A)
(B)
Hujan
menyebabkan kain jemuran basah
(A)
(C)
Dalam proses
pernalaran “akibat-akibat”, peristiwa
tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan
simpulan
Jadi, karena
tanah becek, pasti kain jemuran basah.
(B)
(C)
SUMBER
Akademika. 2006.Mahir
Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.
Arifin, E.ZainaldanS.AmranTasai. 2009, Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta.
Tatang,Atep et all.2009.Bahasa
Indonesiaku Bahasa Negeriku 3. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
______.1986.“Peranan Logika dalam Bahasa”. Bahan
Ceramah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Tukan,P, E. Zaenal Arifin, danS Amran Tasai.2006.Cermat
Berbahasa Indonesia.Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar